Di depan rumah bapak, Pak Sobihin, di Manggong, Ngadirejo, Temanggung, tumbuh sebatang pohon jambu yang cukup rimbun dan tinggi. Buahnya selalu lebat dan tak pernah mengenal waktu. Buahnya juga besar-besar dan mulus, jarang sekali ada yang cacat atau dimakan ulat.
Rasa buah jambu ini cukup manis dengan daging yang cukup tebal dan tekstur yang lembut. Beberapa orang juga pernah mencoba membuat jus dari buah ini, cukup enak katanya.
Pohon jambu tersebut adalah jenis pohon jambu biji Bangkok, yang isinya putih dengan biji yang tidak terlalu banyak. Pohon tersebut terus tumbuh membesar hingga kini, saat ini ini tingginya kira-kira lebih dari 7 meter.
Asal usul pohon jambu itu tidak pernah diketahui, apakah dari Bangkok, Parakan atau malah mungkin hanya dari Sirowo. Pohon tersebut (dengan ijin Allah tentunya) tiba-tiba ‘tukul’ di kandang ayam, kira-kira sejak 6 atau 7 tahun yang lalu. Mungkin ada burung yang memakan buah jambu dan menjatuhkan bijinya di kandang itu.
Setiap tamu yang datang ke rumah, bisa dipastikan akan selalu melihat pohon jambu yang selalu berbuah lebat tersebut. Hampir semua tetangga di Nggondang Ngisor, insyaallah pernah mencicipi jambu ini.
Di hari lebaran ini, banyak orang yang datang memetik buah jambu itu. Kadang sampai 1 kresek. Saudara-saudara dari Tieng, yang sekali datang jumlahnya bisa mencapai puluhan orang, hampir dipastikan selalu ingin mencicipi buah ini.
Meskipun selalu dipetik dalam jumlah banyak, Alhamdulillah buah yang tumbuh di pohon itu selalu ada, sehingga semua yang datang akan kebagian.
Melihat pohon yang begitu lebat itu, banyak saudara yang pingin juga menanamnya. Mas Benu dari Tieng dan Mas Indri dari Semarang, kemarin juga membawa beberapa bibit pohon itu untuk ditanam di lingkungan rumahnya. Mudah-mudahan juga bisa tumbuh dengan baik di tempat yang baru.
Saya sendiri, alhamdulillah juga sudah menanam pohon jambu itu sejak 4 tahun lalu. Dan alhamdulillah juga buahnya hampir sama dengan yang di Ngadirejo. Cuma mungkin karena tingkat kesuburan tanah di tempat saya tinggal, di Depok, tidak sesubur di Ngadirejo, maka buahnya tidak selebat di tempat induknya.
Bahkan saya juga sudah mencangkok pohon tersebut dan membagikan kepada beberapa teman, alhamdulillah juga pada hidup.
Pohon di depan rumah bapak itu mudah-mudahan bisa menjadi pohon seperti yang diceritakan dalam Alquran,yaitu sebatang pohon yang baik, akarnya menghunjam ke bumi, batang dan daunnya menjulang ke langit serta buahnya lebat. Sebuah perumpamaan tentang keindahan hidup seorang yang beriman dan beramal baik.
Mudah-mudahan, kita semua , terutama anak cucu Mbah Yudodiwiryo, juga bisa menjadi seperti pohon yang baik itu. Pohon yang kokoh dan rindang serta selalu memberikan kemanfaatan pada yang lain dalam dalam setiap langkah kehidupannya di dunia ini. Semoga !



umiefarida berkata,
12 September, 2011 @ 4:57 am
Dulu kata Bapak ini oleh2 Umi dari Bogor. Tapi seingat Umi kayaknya ga pernah bawa jambu biji dari Bogor, tur jambu Bogor rata2 dalamnya merah. Masak sampe Ngadirjo berubah jd kuning…ada2 saja..