Sudah beberapa tahun ini, sejak Pak De Durrauf wafat, kami sekeluarga belum lagi mengunjungi desa Tieng, tempat asal Bapak Sobihin. Dulu setiap tahun kami wajib berkunjung ke tempat ini, bahkan ketika saya masih kecil, biasanya hari 1 sampai hari ke 3 selalu dihabiskan di Tieng. Sekarang, kebalikannya, orang-orang Tieng yang setiap tahunnya selalu berkunjung ke Ngadirejo.
Nah mumpung liburan kali ini agak panjang, ya kita gunakan kesempatan ini untuk pergi ke Tieng sekalian berwisata ke Dieng. Jalurnya lewat Jumprit, Sebajak, Tambi dan seterusnya. Lewat jalur ini lebih pendek dibandingkan lewat jalur Parakan-Wonosobo-Dieng, cuma medannya memang lebih berat, menanjak terus sejak berangkat dan pada beberapa bagian jalannya rusak dan sangat sempit, sehingga harus ekstra hati-hati. Alhamdulillah, sopirnya, Mas Narto, sudah sangat berpengalaman melalui medan ini.
Pemandangan sepanjang jalan sangat indah, ada kebon teh, tembakau, kobis, kentang dan lain-lain. Tapi sayang, kawasan ini sekarang sangat gersang, tanah gundul tampak di mana-mana, udaranya juga cukup menyengat, pepohonan yang tinggi juga sudah sangat jarang. Kita yang maunya cari tempat yang berhawa dingin, eh malah disuguhi dengan udara panas yang hampir tidak ada bedanya dengan Jakarta.
Di Dieng, pertama kita ke daerah di sekitar Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Telaganya kayaknya semakin sempit dan gersang saja. Di Dieng eksploitasi lahan juga tak kalah gencarnya. Tanah-tanah di puncak gunung pun sudah diolah menjadi lahan kentang. Udaranya panas sekali.

Setelah itu kita ke Dieng Theatre untuk melihat film liputan sekitar Dieng, sayang gambarnya tak sempat diambil, yang sempat diambil justru gambar ketika makan-makan. Gak apa-apa lah.

Lalu setelah itu kita pergi ke kawasan di sekitar Kawah Sekidang, untuk melihat kawah-kawah yang masih aktif. Ada usaha untuk menata kawasan wisata Dieng ini, terutama di sekitar kawah Sekidang, tetapi lingkungan Dieng sudah kadung rusak, sehingga suasananya tidak senyaman yang kita angankan.

Terakhir kita berkunjung ke kawasan candi Arjuna, disini penataannya lumayan bagus. Ada jalan-jalan yang dipaving, ada pohon-pohonan ditanam yang bias sedikit menyejukkan suasana. Sebenarnya masih ada rencana jalan-jalan ke telaga Menjer di Garung, tapi tampaknya semua sudah pada kecapekan. Akhirnya pulang, setelah singgah sebentar di Tieng.



umiefarida berkata,
9 September, 2011 @ 3:12 am
Ciri khas kalo jalan2 sama Mboke pasti bawa bekal makanan sendiri dari rumah kemudian sambil nggelar tikar makan bareng2. Nikmatnya.. Kyk dulu kalo ke sawah menanti kiriman bekal. Cuci tgn di kali & makan beralaskan daun pisang yg msh segar. Menghabiskan bekal dg lahap, biasanya berupa nasi megono & telur bebek. E, habis makan langsung
pulang…