:: Mbah Kita Itu Visinya Jauh Lho !

Mbah Yudo, mbah kita tercinta itu, ternyata mempunyai visi yang sangat jauh dalam mendidik putra-putrinya. Seperti yang dituturkan oleh Pak de Murid kepada Sdr Haries, meskipun beliau bukan termasuk kalangan “the have”, beliau siap melakukan apa saja untuk pendidikan putra-putri beliau (ya orang tua kita semua).

Dengan segala keterbatasannya, mbah ingin semua putranya meraih pendidikan yang setinggi-tingginya. Hasilnya …, ya bisa kita lihat sendiri, putra-putri beliau dapat mengenyam pendidikan yang lumayan tinggi, bahkan sangat tinggi untuk ukuran waktu itu. Pada periode perjalanan kehidupan selanjutnya, putra-putri mbah banyak yang mengabdikan diri di dunia pendidikan  dengan menjadi  guru di berbagai tingkatan sekolah.

Pendidikan yang mbah cita-citakan  juga bukan semata-mata untuk tujuan keduniaan semata, mbah  sangat menekankan pentingnya pendidikan agama bagi putra-putrinya.

Dulu, sewaktu masih kecil di Ngadirejo, saya ingat betul kalau mau mencari tempat ngaji itu di Manggong  ya di tempat Pak Yasin atau Pak Majid. Kalau di Gondang Ngisor, ya di tempatnya Bu Sanah (Pak Sobihin), lain itu nggak ada lagi.

Kalau Pak De Basar dan Pak De Murid, yang kebetulan tinggal di Parakan, kapasitas beliau berdua tentu tidak diragukan lagi. Pengalaman dan wawasan beliau tentu lebih luas lagi, karena beliau berdua sempat mengenyam pendidikan sampai tingkat sarjana muda dan sarjana.

***

Mbah kita itu nampaknya meyakini betul apa yang disabdakan oleh  Nabi SAW’, “Barang siapa menghendaki dunia,  maka ia hanya bisa didapat dengan ilmu, barang siapa menghendaki akherat, maka ia hanya bisa didapat dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka keduanya juga hanya bisa didapat dengan ilmu…”

Hal tersebut di atas tentu menjadi tantangan bagi kita semua, terutama kita yang sedang belajar menjadi orang tua. Mampukah kita meneruskan apa yang telah dilakukan mbah kita tercinta itu terhadap anak-anak kita ? Mampukah kita menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang lebih baik dari kita ?

Tantangan yang sangat berat memang, tetapi bagaimana pun kita tetap harus berusaha sekeras mungkin dan jangan pernah kenal kata putus asa…Insyaallah !

2 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Nadzirin berkata,

    Nuwun Sewi Nderek kenal : ngomong-ngomong soal ngaji di Ngadirejo Mas Yasin, lek Abdul Majid saya nggak asing lagi dan juga di Gondang Ngisor Lek Sanah Pak Sobihin itu juga nggak asing lagi, itu termasuk angkatan mudanya, angkatan Tuanya Ya diantara nya pak Kaum Tamyis, Lek Jakfar, Pak Wahrodi dan lek siapaya saya lupa yang wajahnya mirip Bambang Hermanto (bintang Film jaman baholak) waktu masih muda, itu gondang Duwur dan Juga kiyai Yasin Pesantren Belakang Bidan Bu Asti Depanan dengan SD Ngadirejo I dimana saya sekolah di SD tersebut Sampai kelas V, selebihnya saya pindah ke Kartosuro Solo. Maturnuwun dan salam kenal

    ::> Nadzirin
    Yang kayak Bambang Hermanto, apa Mas Istohri ? beliau sudah wafat lebaran dua tahun lalu. Pesantren yang di belakang Bu Asti itu almarhum KH Basir, bukan Kyai Yasin, sekarang diteruskan oleh KH Tolhah dan Gus Muh. Ngomong-omong apa masih sering ke Ngadirejo ?

  2. 2

    Nadzirin berkata,

    sing koyo Bambang hermanto kui yo sing arane lek Suhadi Gondang duwur
    wis suwe aku ora mulih kiro yo wis ono nek 10 tahunan mungkin lebih
    iki ono kisah teladan kanggo 3 putri mu sing disingkat BUNAYA
    http://hanafishahdan.blogsome.com/2007/04/12/uwais-al-qarni/
    tinggal copy paste

    ::> Nadzirin
    Oh ya Pak Suhadi, insyaallah masih. Matur nuwun atas ceritanya. Mudah2an teladan Uwais al Qarni bisa jadi pelajaran buat kita. Seorang yang belum pernah berjumpa dengan Nabi SAW tapi mendapat kedudukan yang sangat istimewa.
    Generasi tua yang masih sugeng di Ngadirejo al : Pak Mat Talkhah, Pak Koco, Pak Wahrodi & Pak Sobihin.


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda